Sejarah Curug Cipendok Banyumas - Wong Cipendok

Sejarah Curug Cipendok Banyumas

Curug Cipendok,terletak di Desa Karang Tengah,Kecamatan Cilongok,Kab Banyumas,Kota Purwokerto,Profinsi Jawa Tengah.Ketinggian air terjun sekitar 90m,Di Area wisata Curug Cipendok dilengkapi dengan fasilitas: Cottage, outbond, jogging & jungle tracking serta Bumi perkemahan.

Didukung keindahan alam sekitar berupa hutan produksi dan hutan lindung , serta menara pandang yang dapat melihat pemandangan Kota Purwokerto "cuaca cerah".Pesona Curug Cipendok terlihat lebih menarik karena masih sangat alamiah. Di bawahnya terdapat danau kecil yang biasa dijadikan tempat mandi oleh para wisatawan.Terletak di Kecamatan Cilongok atau sekitar 25 kilometer arah barat Kota Purwokerto.

Curug Cipendok kini berkembang menjadi alternatif wisata alam di Banyumas selain wisata alam di Baturaden dengan bentuk nuansa panorama alam yang sangat asri dan menawan. Untuk mencapai Curug Cipendok, tidaklah sulit sebab jalan menuju lokasi sudah diaspal. Tak jauh dari lokasi, juga terdapat Gunung Selamet yang melekat pada kultur budaya masyarakat setempat. Curug Cipendok menjadi daya tarik tersendiri, karena lingkungan alamnya masih betul-betul alami.

Kesunyian juga masih sangat terasa, sebab belum banyak pelancong yang datang menikmati keindahan alam di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok tersebut. Antara Curug Cipendok dengan tempat parkir mobil masih tersisa sekitar 500 meter. Namun jangan khawatir, perjalanan 500 meter jalan dari pintu masuk menuju curug tidak bakal membuat bosan. Justru sebaliknya, perjalanan tersebut membuat pengunjung dibawa memasuki alam yang masih asri.

Dengan jalan yang naik turun, wisatawan yang datang akan disambut dengan suara-suara serangga khas hutan tropis. Dan sebelum sampai Curug Cipendok pengunjung akan mendengar suara gemuruh seperti hujan lebat. dan itulah suara air terjun yang turun dari ketinggian hampir 100 meter tersebut. Udara dingin ditambah dengan titik-titik air membuat suasana damai dan tenang.

Sejarah

Nama Curug Cipendok bermula dari legenda yang masih berkaitan dengan sejarah Perang Diponegoro. Perang ini merupakan perang lima tahun (1825-1830) antara Pangeran Diponegoro melawan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Perang yang dimenangkan Belanda itu membuat seluruh wilayah kerajaan Surakarta termasuk wilayah Dulangmas, meliputi Kedu, Magelang, Banyumas berada dibawah kekuasaan pemerintahan kolonial.

Perjanjian tersebut tertuang dalam perjanjian dulangmas,salah satu wilayah Banyumas, yaitu Ajibarang, saat itu dipimpin oleh seorang Wedana bernama Raden Ranusentika.

Pada saat itu diberi tugas untuk melakukan kerja rodi, berupa pembukaan hutan belantara di sekitar lereng Gunung Slamet untuk dijadikan area perkebunan.

Sudah delapan bulan lamanya beliau memimpin pembukaan hutan di lereng Gunung Slamet, namun belum juga mendapatkan hasil. Senantiasa terjadi keanehan, pada saat pohon-pohon selesai ditebang, esoknya tumbuh lagi seperti semula.

Seolah-olah seperti belum pernah ditebang sama sekali. Kejadian ini terjadi berulang-ulang, sehingga membuat bingung dan pusing Raden Ranusentika.

Karena baru kali ini menemukan permasalahan yang aneh, maka kemudian Raden Ranusentika berdoa dan bermohon kepada Tuhan dengan cara bertapa beberapa saat. Karena merasa belum mendapat petunjuk juga, beliau kemudian menyudahi bertapanya. Sembari mengusir kegundahan dan mencari jalan keluar, Raden Ranusentika pergi memancing ikan di dekat air terjun.


Di tengah-tengahnya memancing, tiba-tiba beliau merasa kailnya seperti ditarik-tarik oleh ikan yang besar, sampai-sampai gagang pancingnya melengkung.

Namun alangkah terkejutnya, saat pancingnya ditarik bukannya ikan yang didapat, melainkan sebuah barang mirip cincin yang merupakan pendok atau cincin warangka keris yang bersinar kuning keemasan.

Ketika didekatkan, tiba-tiba Raden Ranusentika bisa melihat banyak sekali makhluk halus yang berada di hutan yang telah ditebang habis. Mereka semua yang selama ini menggagalkan pekerjaan Raden Ranusentika.
Atas usulan Breden Santa, seorang kepala pekerja, air terjun dimana Raden Ranusentika menemukan pendok keris, dinamakan Curug Cipendok.

Berasal dari kata curug yang berarti air terjun dan pendok atau cincin dari bilah keris. Selain menemukan pendok, Raden Ranusentika juga ditemui seorang makhluk halus berujud peri, bernama Dewi Masinten Putri Sudhem yang bersedia membantu menyelesaikan pekerjaan pembukaan hutan tersebut.

Akhirnya, pekerjaan pembukaan hutan berhasil diselesaikan dengan baik. Dewi Masinten Putri Sudhem kemudian diboyong ke Kadipaten Ajibarang, menjadi garwa padmi (selir) dari Raden Ranusentika.

Antara wisata &sejarah curug cipendok

Kurangnya perhatian pemeritah kabupaten banyumas untuk wisata air terjun curug cipendok,sehingga lokasi tersebut begitu begitu saja,tanpa perkembangan signifikan,padahal menurut saya jika pemerintah campur tangan untuk wisata air terjun di desa kami,pastinya akan lebih maju&berkembang seperti halnya wisata baturaden.

Akses jalan yang sudah mulai hancur membuat peminat wisata curug cipendok makin berkurang dari tahun ke tahun.Suasana air terjun&perbukitan yang masih hijau alami mengelilingi di setiap perjalanan menuju air terjun,namun hanya seperti itulah yang akan di dapat.

Mungkinkah pemerintah kabupaten banyumas akan mengambil langkah seperti perkembangan wisata baturaden??

Cerita Mistis Curug Cipendok

Sekitar tahun 2000 beredar cerita" ada dua orang dari tasik yang sengaja datang ke Curug Cipendok dengan terlebih dahulu rialat puasa.

Sesampai di pintu masuk arah Curug Cipendok,Mereka di sambut dua dayang kerajaan Gaib Curug Cipendok.

Di ceritakan mereka sempat melihat 2 batang emas yang telah di kuasai mahluk halus berupa naga, dalam emas itu jelas tertulis made in japan.

Emas tersebut bisa di ambil dengan syarat naga tersebut meminta teman,dengan kata lain,salah satu teman harus jadi teman naga tersebut,sehingga permintaan naga tersebut tidak di ikuti berikut emas pun tidak jadi di ambil.

Untuk cerita mistis lain diantaranya terdapat pasar gaib&perkampungan gaib,layaknya seperti di dunia nyata.

Untuk cerita dari keluargaku sendiri sempet eyang buyut&14 orang lainnya tersesat selama 14 hari di kaki gunung saat pencarian sumber air minum warga,sehingga bapaku yang sudah pengalaman menyusul mereka hingga ketemu&bisa pulang kembali..

Ada cerita unik dari bapaku,katanya jika masuk area gunung tidak boleh pulang menggunakan jalan yang telah di lewati saat masuk gunung,tetep jalan babalas terus,jika lewat jalan yang telah di lalui,maka bisa tersesat.entahlah..

Tapi selama ini bapaku udah sering bolak balik ke gunung,seperti mencari jamur musiman yang adanya di area pucuk gunug.

Saat saya pulang november 2013 pas musim jamur tiba,terdengar cerita dari sebelah desa,ada satu warga yang hilang saat mencari jamur hingga sampai saat ini tidak di ketemukan.. walohu aklam..

Kini wisata Curug Cipendok ramai lagi di kunjungi tetapi karena besarnya debit air terjun,pengunjung hanya boleh melihat air terjun dari atas sesuai batas yang telah di tentukan,tentunya pembatas ini bertujuan untuk keselamatan pengunjung wisata Curug Cipendok .

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel